Langsung ke konten utama

Melawan Keterbatasan

Pernahkah kalian mengalami kelupaan akan nama seseorang yang sebelumnya pernah kalian temui? Atau bahkan lupa wajahnya? Pernahkah kalian lupa akan janji kepada seseorang? Lupa meletakan sesuatu? Lupa kalau sedang memasak?
Pernahkah kalian merasakan kesulitan mengingat rumus atau menghafal pelajaran yang telah di suguhi guru? Pernahkah kalian merasa kesulitan mengingat rute suatu jalan?
Aku mengalami semua itu. Entah sejak kapan aku memiliki ingatan buruk seperti ini. Aku seringkali merasa kesal terhadap diriku sendiri yang kesulitan menghafal suatu pelajaran. Bahkan ketika sudah berhasil menghafal, beberapa saat kemudian jika tidak terus ku ulang maka hafalan itu bisa menghilang. Aku juga sering memasak dan lupa kalau aku sedang memasak. Terkadang aku ingin menangis dengan kesulitanku ini.
Keadaan paling parahku tidak mampu mengingat jalan, meski beberapa kali ku lalui. Aku harus melaluinya sendiri berulang kali, barulah aku mampu mengingatnya.
Namun, selama ini aku tidak menjadikan semua ini sebagai beban. Aku hanya menganggap barangkali aku yang kurang bisa fokus. Kemudian aku berusaha untuk fokus. Atau mungkin aku perlu bantuan catatan.
Hei... apakah aku berhasil?
Ya, aku berhasil. Setidaknya hal itu menutupi sedikit kelupaan ku terhadap sesuatu, agar orang-orang tidak men-judge ku sebagai pelupa. Akan tetapi, aku malah terkadang lupa dimana meletakkan catatan penting itu. Huaaa..... rasanya aku ingin teriak. Tuhan... mengapa aku begini?
Kalau di tertawakan karena kepelupaan ku ini, sudah sering.
Aku pernah di ajak ke rumah teman yang baru pindahan. Nah, jadi aku berusaha mengingat detail jalan arah rumahnya agar suatu saat nanti aku bisa ajak teman-teman lain ke rumahnya. Kebetulan rumahnya masuk jalan-jalan sempit. Sewaktu pulang aku merasa senang, karena aku bisa mengingat jalannya.

Suatu hari, teman-teman ingin ke rumah temanku yang baru pindahan itu. Aku tahu, sebenarnya mereka sedikit ragu denganku, karena mereka tahu aku sering nyasar. Hiks...
Dengan percaya diri aku menunjukan jalan ke rumah temanku yang baru pindahan itu. Tahu apakah yang terjadi?
Aku salah menunjukan rumahnya. Dan keresahan teman-temanku benar, aku benar-benar tidak mengingat dengan baik jalan ke rumah temanku itu.
Lalu aku bertemu dengan seseorang yang kini dia menjadi temanku. Dia mengajakku bertemu di suatu tempat yang cukup jauh dari tempat tinggalku. Aku penuhi, untuk melawan kelemahanku ini. dan beberapa kali setiap kali bertemu dengannya, aku tersesat. Sampai suatu hari, dia menyuruhku ke suatu tempat. Aku menyerah, aku lupa jalan itu. Lalu dia berkata, “Bukankah sudah sering di lalui. Kamu seperti orang terkena alzheimer saja.”

Ah, aku tak separah itu. Aku hanya tidak bisa mengingat rute jalan yang jauh dan berliku. Aku mampu memahami apa yang aku baca dan pelajari aku hanya sulit menghafal. Aku mampu mengingat sejarah, suatu kejadian. Aku hanya tak mampu mengingat waktunya dengan tepat. Sampai saat ini aku masih melatih diri untuk membunuh kekuranganku ini. Dengan mencatat dan mengulang-ulang. Tidak ada yang tidak mungkin jika kita berusaha. Dan dibalik kekurangan kita Tuhan memberi kelebihan yang mungkin tidak dimiliki orang lain. Terus berusaha menjadi yang terbaik dan percaya selalu ada keajaiban dari Tuhan.


Komentar