Setiap manusia selama menjalani setiap langkah kehidupan pasti pernah merasakan pahitnya kekecewaan. Sebagai makhluk sosial kita tidak lepas berinteraksi dengan orang-orang disekitar kita. Bukan mudah menjalin kebersamaan, persaudaraan, pertemanan, persahabatan, kerjasama dan lain sebagainya. Seringkali terjadi ketidak sesuaian antara kita dengan orang lain yang menimbulkan merenggangnya hubungan kebersamaan tersebut.
Ketika teman membohongi, sahabat mengkhianati, perkataan orang lain yang mengiris hati dan berbagai macam rupa masalah yang menimbulkan kebencian. Kebencian bersarang dihati menimbulkan ketidak nyamanan dalam kebersamaan bahkan hatipun merasa tidak tenang. Terus saja terbakar emosi. Tiap mengingat kesalahannya otomatis amarah menyulut, dada terasa ingin pecah menahan meledaknya api kebencian. Bahkan ada yang sampai melampiaskan dengan balas menyakiti.
Seperti yang dikatakan Robert Frost, " Sesuatu yang kita tahan tekan kita lemah, hingga kita menemukan bahwa sesuatu itu adalah diri kita sendiri."
Kebencian, amarah, dendam yang terpendam dalam jiwa kita semakin lama akan semakin melemahkan diri kita sendiri. Melepaskannya dalam bentuk pembalasan memang melegakan namun dampaknya lebih lagi merugikan. Tidak hanya bagi dia tapi juga bagi diri kita sendiri. Banyak orang yang menyesal akibat amarah yang dituruti
Maafkanlah...
Betapa lemahnya kita sebagai manusia. Dalam proses perbaikan diri, kita tidak luput dari melakukan kesalahan. Bayangkan betapa diri kitapun lemah. Barangkali suatu saat kita pernah keliru dan membutuhkan kemakluman, kemaafan. Bukankah Tuhanpun masih selalu membuka pintu maaf bagi hamba-Nya yang melakukan kekhilafan dan tidak langsung menjatuhkan hukuman, selama napas masih ada pintu maaf masih terbuka dari-Nya.
"Maukah aku ceritakan kepadamu mengenai sesuatu yang membuat Allah memuliakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab; tentu Rasul pun bersabda; Kamu harus bersikap sabar kepada orang yang membencimu, kemudian memaafkan orang yang berbuat zalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu dan menjuga menghubungi orang yang telah memutuskan silaturahmi denganmu." (HR. Thanrani)
Betapa mulianya orang-orang yang mau memaafkan saudaranya. Betapa murninya hati yang memaafkan.
Bila masih terasa berat, cobalah anggap amarah sebagai sampah yang memenuhi hati. Menumpuk, sesak, bau aroma kebencian yang tidak sedap. Coba buang satu persatu, lepaskan. hanyutkan jauh-jauh. Bila ia berupa api, padamkan kobarannya. Jangan biarkan membakar segalanya. Yang berlalu sudah berlalu. Kini sambutlah hati kita yang baru, bersih dan tangguh. Hanya orang-orang kuatlah yang mampu memaafkan.
Rasakan kelapangan hati kita. Kedamaian akan hadir. Sejuk tiada sampah menumpuk, tiada kobaran api yang membakar.
Betapa pentingnya kedamaian hati. Bukankah itu yang selama ini kita rindukan? kedamaian, kebahagiaan. Betapa indahnya saling memaafkan, saling merangkul, saling nasihat menasihati.
Wallahua'lam.
Komentar
Posting Komentar