![]() |
| Al-Qalam |
Mengapa sih aku harus menulis?
Ketika kita ditanya mengapa sih kau ingin
menjadi penulis?
Sebahagian kita pasti berpikir untuk
menjawab, agar menjadi terkenal, agar bisa menjadi sekeren Tere Liye, JK.
Rowling, Asma Nadia dan penulis-penulis terkenal lainnya atau barangkali agar
terlihat pintar dan luas wawasannya.
Seorang pecinta buku seperti saya yang
sejak dahulu memiliki impian menjadi seorang penulis sempat berpikir, suatu
hari nanti aku akan sekeren penulis ini (penulis buku favorit). Nah, waktu itu
aku masih belum menyadari guna menulis.
Mencipakan sebuah karya
yang membuat orang-orang kagum dengan karya kita bukanlah alasan yang kuat atau
kungkin dapat dikatakan kurang tepat. Karena alasan-alasan itu tidak membuat
seseorang benar-benar konsisten dalam menulis. Ketika suatu saat tidak juga
berhasil menulis dengan baik, tidak seorangpun memuji tulisan kita, maka kita
menyerah!
Lantas untuk apa sebenarnya menulis itu?
1. Kepatuhan Terhadap Firman Tuhan
Di dalam sebuah surah di
dalam mushaf Al-Quran terdapat perintah membaca "Iqra'" yang
artinya bacalah. Jelas perintah itu tertulis didalam surah al-Alaq ayat 1.
Tidak hanya membaca yang tersurat, melainkan yang tersirat di alam mayapada
ini.
Lalu apa hubungannya dengan menulis?
Jelas ada hubungannya. Dengan membaca kita
memperoleh pengetahuan yang terkumpul didalam memori. Namun, apalah
artinya ilmu jika hanya cukup untuk diketahui. Ikatlah ilmu itu dengan
menuliskannya agar tidak lupa kemudian sampaikanlah melalui tulisan.
Selain memerintahkan membaca, menulis juga
merupakan perintah Tuhan. Tertulis didalam surah Al-Qalam ayat 1 yang artinya
“Nuun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.”
2. Untuk Menyampaikan Kebenaran
Seperti
yang dikatakan oleh Sayyid Quthb “Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala,
tapi satu telunjuk (tulisan) mampu menembus jutaan kepala.” Tulisan mampu
mengubah cara pandang seseorang. Apa yang kita tulis juga mampu menggamit hati
pembacanya. Maka, diperlukan kehati-hatian dalam menulis.
Menulis
akan menjadi sumber dakwah jika apa yang kita sampaikan suatu kebenaran. Berapa
banyak buku-buku yang mengajak kita melangkah kejalan yang benar. Misalnya buku
Sallim a Fillah, Yusuf Mansur, Felix Siaw dan yang lainnya. Mengajak orang-orang
melakukan kebaikan merupakan suatu ibadah.
3. Menjadi Sumber Inspirasi
Menulis
pengalaman hidup tidak hanya membuat diri merasa lega, karena tertumpahnya
segala yang membenak di dada. Lebih dari itu, pengalaman yang kita alami
barangkali juga pernah di alami oleh setiap orang. Ketika orang-orang
membacanya, maka ia akan merasa tidak sendiri dan menjadi termotivasi. Misalnya
pengalaman ketika mengidap suatu penyakit. Ceritakan yang menyebabkanmu
menderita sakit itu, bagaimana perjuanganmu untuk dapat sembuh. Sang pembaca
akan merasa terinspirasi untuk ikut melakukan apa yang kita lakukan selama
menderita penyakit itu.
Cerita-cerita
inspirasi dapat kita temukan misalnya didalam buku chicken soup, buku-buku
sejarah dan sejenis lainnya. Selain itu didalam novel atau cerita fiksi lainnya
kita juga dapat menyelipkan amanat atau pelajaran yang akan menggugah hati para
pembaca.
Jadikanlah
diri bermanfaat dengan menulis. Sentuhlah hati setiap pembaca dengan tulisanmu.
Semoga setiap tapak langkah kita menuai manfaat dan berkah.

Komentar
Posting Komentar