![]() |
Embun masih lagi membukus pagi. Cahaya kuning keemasan memancar dari ufuk Timur.
Terlihat dua pasang kaki mungil menghentak bumi menulusuri gang-gang sempit.
Tawa riang terdengar mengalahkan kicauan burung.
"Mas Budi...!" teriak Mila sigadis kecil seraya berlari mengejar Budi.
"Ayo dek, kejar mas kalau bisa...! Budi berlari lebih kencang dari Mila.
Tiba-tiba langkah Budi terhenti. Terpaku menatap rombongan anak berseragam merah putih.
"Kena mas Budi!" kata Mila sambil menabrak tubuh Budi. "Lihat apa sih mas?"
Tanya Mila heran sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dek, kamu ingin nggak seperti mereka?"
"Kalau mas ingin, kenapa kita nggak ikuti mereka aja mas." sahut Mila dengan lugu.
Mila menarik lengan Budi mengjajaknya mengikuti rombongan anak berseragam merah putih yang berjalan
berbaris melewati hamparan hijau yang terbentang. Budi dan Mila terus mengejar anak-anak itu.
Akhirnya Budi dan Mila berhasil mengejar rombongan anak berseragam merah putih hingga sampai ke sekolah.
Nafas mereka tersengal-sengal.
"Eh, kalian ngapain disini?" tanya salah satu anak berseragam merah putih.
"Kami mau sekolah." jawab Mila singkat.
Anak berseragam merah putih itu menatap Budi dan Mila dari ujung kepala sampai ujung kaki. Terlihat lusuh sekali. Rambut kumal, kakipun tak beralas.
"Kalau kalian ingin sekolah, kalian harus memakai seragam merah putih seperti ini." jelas anak itu.
Budi memperhatikan seragam merah putih anak itu.
"Tapi kami tidak punya."
"Kalau begitu kalian tidak boleh masuk."
KRIIING!
Bel berbunyi. Anak-anak berseragam merah putih berbaris di lapangan. Sebelum masuk kelas, anak-anak harus berbaris lebih dahulu dan memberi salam kepada guru-guru. Budi dan Mila memperhatikan setiap anak berseragam merah putih dan guru-guru yang berbaris. Setiap murid menyalami tangan guru-guru mereka dan satu persatu murid memasuki kelas mereka masing-masing.
"Selamat pagi anak-anak!" sapa hangat seorang guru didalam salah satu kelas.
"Selamat pagi bu!"
Budi dan Mila mengintip salah satu kelas. Dengan rasa penasaran mereka terus memperhatikan apa saja yang dilakukan anak-anak berseragam merah putih itu didalam kelas.
"Mas Budi, kita pulang yuk. Nanti kakek mencari kita."
Budi mengangguk setuju dengan ajakan Mila. Budi dan Mila berlari pulang. Tidak sabar ingin menceritakan apa yang mereka lihat di sekolah.
***
"B-U bu, K-U ku, di baca buku."
Budi dan Mila memperhatikan ibu guru yang sedang mengajarkan anak-anak membaca melalui jendela kayu yang berbentuk persegi dan cukup lebar. Mila mengeluarkan buku dan pensil yang dibawanya didalam kantong plastik kresek. Dia mencatat setiap apa yang ditulis ibu guru. sementara Budi memperhatikan dengan serius dan sesekali bibirnya mengucapkan apa yang di ucapkan ibu guru.
Hampir setiap hari Budi dan Mila datang ke sekolah untuk melihat anak-anak berseragam merah putih itu belajar. Ada keinginan yang kuat di hati mereka untuk bisa masuk belajar berasama anak-anak berseragam merah putih itu. Namun keadaan berkata lain, mereka tidak seberuntung anak-anak itu.
"Hei nak! sedang apa kalian disini?" Budi dan Mila terkejut, Budi menatap seorang laki-laki berkumis tipis itu dengan sedikit ketakutan.
"Kami ingin belajar pak." sahut Mila.
"Lalu kenapa kalian tidak sekolah seperti mereka." bapak itu menunjuk anak-anak berseragam merah putih yang ada didalam kelas.
"Kami tidak punya seragam pak." kata Budi.
"Tapi kata kakek, kalau kakek udah punya uang kami akan dibelikan seragam merah putih." sambung Mila.
Bapak berkumis tipis itu mengusap kepala Mila.
"Siapa nama kalian?"
"Budi pak, ini adikku Mila."
"dimana rumah kalian?"
"di desa Mekar Sari pak?" jawab Budi.
"Nama bapak Samsudin. panggil saja pak Sam. Bapak kepala sekolah di sekolah ini. "ya sudah kalian lanjut saja belajarnya ya."
Budi dan Mila menatap pak Sam lekat-lekat. Hati pak Sam begitu teriris melihat Budi dan Mila. Ternyata sampai sat ini masih ada anak-anak yang tidak mampu mengenyam pendidikan. Pak Sam membiarkan Budi dan Mila belajar di balik jendela.
***
Hari ini pak Sam tidak melihat Budi dan Mila di sekolah. Sejak melihat dua anak kecil itu pak Sam menjadi penasaran, apa yang menyebabkan Budi dan Mila tidak mampu untuk sekolah.
Dengan mengendarai sepeda motor hitamnya pak Sam pergi ke desa tempat Budi dan Mila tinggal. Mencari tahu tentang dua anak kecil itu. "Permisi bu, saya mau tanya apa ibu kenal dengan dua anak kecil namanya Budi dan adiknya Mila?"
"Oh, cucunya kek Parman? nanti bapak jalan terus ada simpang tiga belok kanan. nah, rumahnya sebelah kanan di depan warung."
"Baik bu, terimakasih ya bu."
Pak Sam melanjutkan perjalanannya. Seperti yang di jelaskan ibu tadi, di depan rumahnya ada warung. Rumah yang begitu sangat sederhana, rumah tua yang mungkin hanya ada satu ruangan didalamnya. Pak Sam mendekati rumah itu. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Seorang kakek membuka pintu.
"Kek, apa benar ini rumah Budi dan Mila?"
"ia betul, anda siapa?" tanya kakek heran.
"Saya kepala sekolah SD Tunas Baru."
Kakek mempersilakan pak Sam masuk. Pak Sam menceritakan semua yang dilakukan cucunya selama ini di sekolah.
"Oh ya kek, Budi dan Mila mana kek? dari tadi tidak kelihatan."
"Budi dan Mila menggantikan saya menggembala kambing. Karena hari ini saya kurang enak badan." kata kakek yang memang terlihat pucat dan sangat lemah.
"Budi dan Mila memang sangat ingin sekolah, tetapi saya belum mampu membelikan mereka seragam serta peralatan sekolah. Budi sempat sekolah selama satu tahun waktu itu. tetapi sejak ibu mereka meninggal ketika melahirkan Mila Budi terpaksa berhenti sekolah."
"Kemana ayah mereka kek?"
"Ayah Budi dan Mila pergi ke kota dan menikah lagi. Sampai saat ini kamipun tidak tahu kabarnya."
Mata pak Sam terlihat berkaca menahan bendungan air matanya. Ada kebanggaan di hatinya melihat semangat Budi dan Mila untuk belajar. Meski tanpa kasih sayang orang tua, meski hanya impian yang mereka miliki.
Tak ingin berlama-lama di rumah itu Pak Sam pamit pulang. Hatinya tergugah ingin segera membantu mewujudkan impian Budi dan Mila.
***
Pak Sam menceritakan tentang Budi dan Mila kepada instrinya. Istrinya menangis dan sangat ingin bertemu dengan Budi dan Mila. Keesokan harinya pak Sam membawa istrinya kerumah Budi dan Mila. Sesampainya di rumah Budi dan Mila, istri pak Sam hatinya lebih teriris lagi melihat keadaan rumah mereka. Bahkan garasi rumah merekapun lebih luas jika dibandingkan dengan rumah Budi dan Mila.
"Kek, ini istri saya." Pak Sam memperkenalkan. Istrinya menjabat tangan kakek.
Mata isri pak Sam berkeliaran mencari sosok Budi dan Mila.
"Budi dan Mila dimana ya kek?" tanyanya.
"Sedang menggembala kambing, sebentar lagi juga pulang," jawab kakek.
"Begini kek, kami begitu tersentuh melihat Budi dan Mila. Mereka memiliki keinginan belajar yang kuat. Jadi, maksud kami datang kesini ingin mewujudkan mimpi Budi dan Mila. Kebetulan kek, kami belum di karuniakan anak oleh Tuhan. Jadi kami ingin menjadikan Budi dan Mila sebagai anak kami. Apakah kakek mengizinkannya?" tutur pak Sam.
Hening.
"Kek, kami akan menyayangi dan merawat mereka selayaknya anak kami sendiri." lanjut istri pak Sam meyakinkan kakek.
Kakek mengangguk.
"Baik lah kalau begitu, saya serahkan Budi dan Mila kepada kalian. Lagipula usia saya sudah sangat tua. Jika saya sudah tidak ada nanti tidak akan ada yang merawat mereka."
Air mata kakek membasahi pipi keriputnya.
"Terimakasih ya kek. Saya senang sekali." Istri pak Sam mencium tangan kakek karena saking senangnya.
"Saya yang seharusnya berterima kasih." ujar kakek sedikit tersenyum bahagia. Di luar terdengar suara langkah dari kaki-kaki mungil.
"Assalamualaikum kakek." ucap Mila nyaring.
"Waalaikumsalam." jawab kakek.
Istri pak Sam menatap kedua anak itu dan memeluk mereka. Budi dan Mila masih terdiam heran.
"Budi, Mila, ini istri pak Sam." kata kakek. Budi dan Mila menyalami Pak Sam dan istrinya.
"Mulai besok Budi dan Mila sudah bisa sekolah pakai seragam merah putih. Dan ini bapak sudah membawa semua perlengkapan sekolah kalian." jelas Pak Sam seraya menunjukan dua pasang seragam merah putih, dua buah tas beserta alat-alat tulis.
"yee...!" teriak Budi dan Mila girang.
Sejak saat itu Budi, Mila dan kakek tinggal bersama keluarga pak Sam. Kini impian Budi dan Mila terwujud. Berkat keyakinan dan kesungguhan Tuhan menjawab impian mereka.
TAMAT
Hargailah setiap jerih payah orang tuamu.
Bersungguh-sungguhlah menuntut ilmu
Karena di luar sana masih banyak
anak-anak hanya mampu menggenggam mimpi-mimpinya
Belajar dengan baik merupakan tanda syukur kita kepada Tuhan yang Maha Esa
-Qyara Anjani-

Komentar
Posting Komentar